Monday, June 4, 2012

Saya kecewa dengan Papa, karena saya sayang Papa


Entah kesekian kalinya semua usaha itu dilakukan. Tampaknya memang kepala papa jauh lebih keras dari sekedar karang. Entah apa yang membentuknya hingga jadi seperti ini. Keadaan kah? Lingkungan kah? Atau ego-nya yang sudah sangat tidak terkendali? Apa pun itu, boleh dibilang aku sudah menyerah. Sebetulnya, memang tidak sulit mencari semua alasan yang menyebabkan dia seperti itu.

Ego
Yah sudah tidak diragukan lagi. Ego-nya tinggi sekali. Mudah gengsi, menganggap orang lain buruk, jarang sekali menghargai orang lain, dan tidak jarang suka iri akan keberhasilan orang lain.

Berpikiran sempit dan pendengar yang buruk
Pemikirannya boleh dibilang kolot, sempit, dan selalu berpikiran negatif. Menganggap semua kritikan dan masukan yang datang padanya sebagai ancaman dan sikap kurang menghargai. Jadi mudah tersinggung dan tidak pernah menerima masukan dari orang lain.

Sok tau
Ini yang cukup parah. Seakan dia seperti “tau segalanya.” Sepertinya sudah tidak perlu digambarkan lebih lanjut. Saya rasa semua orang cukup tau bagaimana dan seperti apa seseorang yang merasa “tau segalanya.”

Kesuksesan dini
Beliau tergolong pemuda sukses di penghujung umur 20-an. Bisa membuka usaha yang cukup berhasil, memiliki anak buah, dan kecukupan financial di usia muda, adalah impian siapapun yang ingin masa depannya terjamin. Namun, dibalik itu semua, kita perlu tetap menjejak bumi. Nah, ini yang tidak dilakukan papa. Lebih lagi, beliau kurang bisa mengatasi pujian yang datang.

Terlalu disayang orang tua
Yah boleh dibilang dia salah satu anak emas nenekku. Tidak heran kalau semua saudara kandungnya tidak senang dengannya. Sebaliknya, karena semua bersikap seperti itu padanya, papa semakin menjadi-jadi. Tidak ada rasa hormat sama sekali terhadap keluarganya. Sadar atau tidak, dia membangun tembok yang cukup tinggi untuk membatasi dirinya dengan keluarganya.

Maaf sekali, Pa!!! Aku sama sekali gak bermaksud bikin semua orang tau seperti apa Papa sebenarnya. Ini sekedar curahan hatiku yang merasa sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk merubah sikap Papa yang seperti itu. Aku gak menyerah mengarahkan Papa supaya bisa jauh lebih merendahkan hati dan menghormati orang lain, dan terlebih…. menghormati diri sendiri. Hanya saja… saat ini aku biarkan Papa menemukan apa yang salah. Aku hanya bisa membantu sedikit. Takkan ada lagi konfrontasi dariku, Pa. Kecuali Papa sudah kelewatan.

Maafkan aku, Pa… Maafkan aku, Tuhan… Semoga Tuhan mengampuniku. Aku hanya berharap semua berakhir baik.

Your son… who always love you,

Steven Delano

No comments: